Politeknik , ANTARA ADA DAN TIADA

“Pandangan Pak Hadiwaratama” (ITB – Sesepuh Politeknik di Indonesia) tentang Politeknik Saat Ini

Sepulang dari Depok,

ANTARA TAHU DAN MENGERTI, ANTARA ADA DAN TIADA
Oleh Hadiwaratama

Mengadu dan Protes.
Seminar yang diselenggarakan Politeknik Jakarta di Depok tanggal 12 Mei 2010, ternyata bertema  Sistem Pendidikan Politeknik di Persimpangan Jalan, Kajian Pendidikan Vokasi, Ranah Hukum dan Kompetensi Industri. Tulisan saya tentang Budaya Politeknik  rupanya masih relevan. Para panelis duduk berendeng di sofa diatas podium menghadap peserta seminar yang terdiri dari para insan Politeknik dan pimpinan-pimpinannya. Disamping kiri saya duduk Bu Isailah-Direktur Akademik Ditjen Dikti, Pak Son Kuswadi-Staf Ahli Mendiknas dan Pak Efriyanto dari PNJ sebagai moderator. Disamping kanan saya duduk Pak Kokok, satu-satunya alumni Politeknik yang telah jadi mantan Direktur Polman dan sekarang lagi ditugasi oleh Dikti untuk mimpin pembangunan 14 Politeknik baru, bersama sama Pemda-Pemda peserta Kerja Sama. Disamping kanannya lagi ahli kurikulum dari ITS.

Diskusinya saya rasakan bersifat mengadu (wadul) dan protes (meleh kan). Mengadu karena Politeknik sudah bergeser dari rancangan semula dan tidak jelas lagi sebenarnya kedepannya mau kemana. Protes karena Polteknik hanya dianggap anak tiri yang tidak terperhitungkan dalam kebijakan Pendidikan Tinggi. Insan Politeknik tidak pernah dilibatkan baik dalam membuat Kebijakan, Peraturan maupun Perundang-undangan bahkan juga dalam penyusunan Naskah Akademik. Mengadu mungkin lebih ditujukan pada saya. Protes dan keluhan mungkin sasarannya Bu Ilah. Dua tulisan saya telah menjawab itu semua yaitu :

  1. Politeknik Menyimpang atau Disimpang Jalan, yang sudah saya sampaikan dipertemuan 2 bulan sebelumnya.
  2. Budaya Politeknik yang saya persiapkan untuk pertemuan tanggal 12 Mei 2010 tersebut.

Kalau Pejabat hanya tahu tapi tidak mengerti Politeknik bisa saya maklumi, karena mereka datang dan pergi. Tetapi kalau insan Politeknik yang tidak mengerti, maka berakhirlah Sejarah Politeknik ! Mudah-mudahan bukan begitu ! Tetapi saya tegaskan sekali lagi, suka apa tidak suka, bahwa peraturan yang mengharuskan Instruktur/Dosen Politeknik harus setidaknya bergelar S2, beserta pengaruh-pengaruh turunannya, itulah yang telah mulai menghancurkan budaya Politeknik !

Ada yang mengatakan program praktek bengkel/laboratorium  hanya tinggal 1 hari saja dari yang seharusnya minimal 3 hari dalam 1 minggu. Kalau sepintas saya perhatikan memang tanpa kecuali Budaya Politeknik sudah mulai tergerus. Itu tanda-tanda bahwa cepat atau lambat Sejarah Politeknik akan berakhir, kecuali insan Politeknik sendiri bertekad untuk menyelamatkannya. Kalau itu tendensinya, seperti yang saya nyatakan dipertemuan 2 bulan sebelumnya, maka langkah paling tepat adalah menyerahkan seluruh asset Politeknik kepada Fakultas Teknik dari Universitas/Institut yang dulu jadi induknya. Dengan demikian mereka dapat menyiapkan calon calon Sarjana yang intellectually sound and skillful, karena sampai saat ini sarana teknologi mereka sangat minim ! Lantas keperluan Teknisi Indonesia bagaimana? Import saja dari India, Pakistan, China, Taiwan, Korea, Malaysia, Vietnam ataupun negara-negara lain yang bagus pendidikan teknisinya.

Indikator-indikator Penting.
Ada beberapa indikasi yang pernah saya cermati.

  1. Kunjungan Direktur Jendral Pelatihan Kementerian Tenaga Kerja Filipina ke PMS-ITB. Kunjungan tersebut melahirkan kontrak pelatihan instruktur-instruktur pelatihan Kementerian Tenaga Kerja Filipina di PMS-ITB (sekarang POLMAN). Beberapa saat kemudian dia menulis di surat kabar Hong Kong yang menyatakan bahwa  pembangunan industri Indonesia terlihat jelas dimulai dari pembangunan Politekni-Politekniknya. Dia menyayangkan pemerintah Filipina tidak secerdik  Indonesia, tidak memiliki rencana/roadmap pembangunan industri nasionalnya.  Memang system pendidikan Politeknik akhirnya diikuti oleh banyak negara yang sedang membangun industrinya, karena mereka sadar dan mengerti penting dan strategisnya pendidikan tenaga mahir/teknisi ini. Sayangnya kesadaran itu di Indonesia masih sebatas Naskah Akademik dan Peraturan yang justru kontra produktif.
  2. Kunjungan Dirut Garuda, Marsekal Wiweko saat itu, yang didampingi Prof. Diran ke PMS-ITB. Sesudah keliling melihat lihat proses dan peralatan pembelajaran beliau menyatakan bahwa hasil pendidikan teknisi semacam inilah yang Garuda butuhkan. Pak Wiweko sangat mengapresiasi pendidikan semacam ini. Garuda ingin memborong seluruh tamatan PMS untuk beberapa tahun kedepan.Tentu saja sulit untuk memenuhinya, karena mereka mahasiswa bebas, tidak terikat Ikatan Dinas atau wajib kerja.
  3. Kunjungan Vice President INCO Canada, kami kebetulan sama-sama Boiler Maker dari Purdue Univ AS. Dia berkunjung ingin melihat bahwa kontrak PT INCO Indonesia dengan PMS-ITB untuk membangun Akademi Teknik di INCO memang tepat adanya. Dia mengatakan Pendidikan semacam ini memang tepat untuk industri, karena dikaitkan dengan kegiatan industri dan bersifat production based. Indonesia sungguh memerlukan pendidikan semacam ini, yang di Canada pun tidak ada. Kirimkan instruktur-instruktur terbaikmu ke INCO katanya. Saya jawab, justru kirimkan calon-calon instruktur terbaikmu ke PMS, akan kami latih sebaik baiknya, dan kami akan supervisi ketika mereka mulai mengajar di INCO. Pesannya ketika kami berpisah : Make INCO Academy as good as your school. Saya jawab :  Sure, understood. Have a nice trip back to Canada.
  4. Pertemuan dengan Pak Habibie. Sebenarnya saya ingin menghadap Pak Habibie, saat itu Menristek, hanya ingin minta pekerjaan untuk PMS dalam tool manufacturing yang diperlukan oleh IPTN. Saya diantar oleh Ir Harsono D Pusponegoro (alm) dan Ir Paramayuda. Mereka adalah among key staffs Pak Habibie. Merekalah yang  mengatur kesempatan itu. Meja yang berbentuk dampar besar ituamat mengesankan, penuh dengan beragam model-model pesawat didunia. Teh yang disajikannya pun hanya dapat tempat digawir meja. Saya belum bicara apa-apa, belum-belum sudah diawali dengan : “Saya sempatkan dalam kesibukan saya untuk menerima anda, karena Politeknik yang amat penting keberadaannya. Kalau tidak penting untuk apa saya terima anda”, sambil melotot. Padahal Pak Habibie belum pernah berkunjung ke PMS atau Poli lainnya. Yang pasti 100 orang lebih alumni Poli yang bekerja jadi backbone di shop floor IPTN. Barangkali dari situ beliau tahu. Beliau menyatakan ingin memborong seluruh tamatan Poli untuk IPTN dan industri-industri strategisnya. Saya katakan Indonesia sudah banyak membangun Politeknik, tepatnya yang Bapak kehendaki yang mana. Rupanya terutama yang Manufacturing, disamping yang lainnya. Panjang lebar cerita tentang industri, khususnya pembuatan pesawat terbang, kapal, dan lain-lain. Satu jam lebih kami bertemu, hanya berempat saja. Yang selalu saya ingat : “ Banyak orang yang tahu Politeknik, tetapi sedikit saja yang mengerti. Kalau ada yang mempertanyakan atau mempersoalkan Politeknik, laporkan saya, akan saya buat mereka mengerti”. Rupanya Pak Habibie benar adanya, sampai kini justru kekurang pengertian itu yang menjadi hambatan Politeknik. Politeknik hanya dimengerti oleh mereka yang betul-betul menggumuli industri ! Tentang permohonan pekerjaan ? Rupanya kami saling punya hambatan, Pak Habibie tidak dapat memberikan pekerjaan dari IPTN, karena memerlukan lisensi sedang IPTN pun belum mendapatkannya saat itu. Beliau menyarankan kalau dengan PINDAD silahkan. Tetapi justru dalam sektor weaponry manufacturing PMS punya hambatan. Pemerintah Swiss sebagai mitra kerja sama teknik Pemerintah RI keberatan. Mereka tahu PMS mampu melakukannya. Dalam kunjungannya ke PMS, Direktur Jenderal Bantuan Teknik Luar Negeri Swiss menyatakan : “I know PMS can manufacture weapon, but please don’t because it will create problem in our home front”. Dan itu kami pahami dan hormati. Namun diam-diam juga suka dapat pekerjaan dari PNDAD, peralatan untuk QC bila mana mereka tidak mampu membuatnya, yang tidak secara langsung untuk  manufacturing senjata. Demikian juga dari IPTN, pernah order kerjaan manufacturing tools, ketika dapat offset atau pesanan dari Boing. Lumayan, dari kerjaan itu dalam 2 tahun PMS mampu beli spark erosion machine seharga US$125.000 tunai, dan masih terpakai sampai sekarang.
  5. Kunjungan Prof Spur, diantar oleh Pak Joddy dari Mesin ITB, rupanya promotor/pembimbingnya ketika studi S3 di Jerman. Prof Spur adalah Director dari Fraunhofer Manufacturing Engineering Research Center di Berlin. Fraunhofer sangat terkenal didunia, dan sangat dikagumi. AS pun menirunya dengan membuat ERC semacam itu di berbagai Universitasnya. Mereka bilang, memang terinspirasi dari Fraun Hofer. Indonesia pun ingin membuatnya dengan proyek MEPPO, tetapi kandas sebelum terlaksana. Kunjungan tersebut diatur oleh Prof Kei Martin, wakilnya yang kemudian jadi penggantinya ketika Prof Spur pensiun. Kebetulansaya kenal baik dengan Pak Mertin ini. Kunjungan tersebut lebih dari 2 jam, dandilanjutkan dengan diskusi sesudah keliling yang biasanya makan waktu 1 jam.  Diskusi menarik dan asyik tentang teknologi manufaktur yang sedang berjalan dan yang akan datang. Pendidikan semacam inilah yang sangat diperlukan oleh industri, dinegara maju sekalipun, komentarnya. Dia mengharapkan supaya saya dapat bekunjung ke Berlin. Ketika saya sempat mengunjunginya, dia sudah pensiun, tetapi Prof Mertin yang menerima dengan baik bahkan mengatur kunjungan-kunjungan saya ke Lembaga-lembaga lainnya di Berlin, termasuk penginapan saya. Saya diantar oleh seorang asistennya dari Indonesia. Nggak enak juga saya, ketika Prof Spur ke Bandung bersama istrinya saya nggak sempat ngundang dinner, tetapi ketika saya ke Berlin, Pak Mertin ngundang saya dengan  isteri dinner, dan uena….ak tenan ! Mengunjungi Fraunhofer sangat inspiring, jadi tahu research apa saja yang sedang mereka kerjakan dan hubungannya dengan industri. Demikian juga diskusi saya dengan Profesor-Profesor dari Berlin TU maupun Berlin FH (semua FHSsekarang jadi Univ of Applied Science). Seandainya ITB punya ERC semacam itu, bukan main kontribusinya dalam real engineering technology ! Ngunjungi Perguruan-Perguruan Tinggi di Eropa itu hanya bikin ngiler, technological means dan budaya akademiknya itu lho yang kita minim !

Jadi Politeknik harus kemana ?

Kembalilah ke budaya awalnya, perkuat melalui technology updating ! Kalau peraturan tidak mendukung ? Tanyalah pada rumput yang bergoyang, barang kali mereka yang tahu jawabnya. Kalau rumputpun tidak mampu menjawab, siapa lagi kalau bukan insan Politeknik yang menjawabnya ! Budaya mengandalkan Gelar dan Kertas itu yang harus dikikis, dan unjuk kerja yang harus ditonjolkan. Sekalipun gelarnya rentengan, kalau hanya bisa bikin Naskah Akademik atau Project Proposal untuk apa, tidak menghasilkan nilai tambah apapun untuk masyarakat. Bisa-bisa malah menyulitkannya, seperti Politeknik sekarang. Cintailah pekerjaan bengkel dan laboratorium, itu bukan hina! Disitulah nilai tambah betul-betul terjadi. Banyak hal-hal empirik yang bisa kita kaji secara induktif akademik. Itu kalau insan Politeknik ingin kreatif, inofatif, produktif dan problem solving.

Politeknik memang harus ada, namun bukan layaknya tiada. Harus dimengerti, bukan sekedar diketahui. Apa susahnya si ? Kayaknya kok repot banget ? Kalau saja Politeknik kita bisa kembali ke azas dasarnya seperti yang banyak dikemukakan diatas, maka homework berikutnya adalah pendidikan Insinyur. Dengan demikian Indonesia punya kelompok kerja yang kreatif-inovatif dan produktif terdiri dari Insinyur-Teknisi-Juru yang merupakan satu kesatuan kerja. Saya dengar jumlah sks program S1 akan dikurangi. Apa itu sebagai excuse karena tidak mampu mencukupi technological means yang diperlukan ? Untung tidak jadi, kata Bu Ilah. Saya memang terobsesi dengan system dan proses pendidikan Jerman dan Eropa pada umumnya. Jerman terkenal sebagai pusatnya kualitas, sedang Swiss pusatnya presisi. Semua orang tahu makna Made in Germany dan Made in Swiss. Padahal awalnya kata “made in” itu sebagai ciri produk-produk non Inggris yang dianggap lebih rendah mutunya dari produk dalam negeri Inggris. Kok sekarang jadi terbalik balik ya ! Iya ya….! Kalau saja technological means yang dimiliki oleh Univ/Institut Indonesia memadai seperti di Jerman, Swiss, dan lain-lain Negara Eropa atau setidak tidaknya seperti yang dimiliki oleh Politeknik, pasti kita juga mampu mendidik Insinyur seperti luaran dari TH (bukan FH !) di Jerman.
Real contact hours = 29 jam per minggu, dan hampir 40 % waktunya adalah kerja  laboratorium/bengkel dan 60% nya theoretical study. Dengan komposisi semacam itu, saya hitung dengan system sks Indonesia ketemu 153 sks, atau tidak lebih dari 160 sks, dalam waktu 4 tahun. Itulah yang saya bayangkan untuk membangun industri endogen Indonesia, bukan sekedar screw driver migrated industry yang mengandalkan buruh murah serta mengotori lingkungan.

Budaya Endogen.
Kadang-kadang saya merenung, apakah karena budaya endogen Nusantara yang membuat kita lebih menghargai status daripada hasil karya ? Candi-candi kita itu yang bikin pribumi Nusantara atau asing, padahal kita bangga-banggakan?  Apakah budaya kita itu terpaku terus pada budaya budi daya saja ? Budaya yang menggantungkan musim, oleh karena itu punya system penanggalan surya yang ternyata cukup tua. Lantas kita juga punya penanggalan candra/bulan yang kelihatannya untuk ngatur peri kehidupan bermasyarakat maupun dengan yang dipujanya dan tidak jelas kaitan maknanya dengan penanggalan surya. Ada lagi penanggalan Kartika yang mungkin untuk keperluan navigasi saja. Apakah ini akibat kekalahan kita terhadap Portugis, yang membuat kita dengan sengaja menanggalkan budaya dagang dan hanya mempertahankan budaya kesatriya saja, sehingga status dan penampilan  menjadi amatlah penting ? Tapi itu kan hanya di Jawa, kok jadi merata diseluruh Indonesia ? Dalam karya teknologi, apalagi manufaktur perealisasi pertambahan nilai nyata, kok juga tidak ada bekas-berkas yang massive pengaruhnya dalam perikehidupan Indonesia. Menurut catatan perahu terbesar yang dibikin tenaga-tenaga pribumi hanya muat 135-150 prajurit, padahal perahu bikinan China bisa muat 450 orang, hampir sama kapasitasnya dengan perahu Portugis dengan kapasitas 500 orang. Yang terbesar bikinan Semarang bisa muat sampai 400 orang, ternyata pekerjanya Cina. Rupanya memang diperlukan perjuangan budaya. Begitu juga Politeknik. Tidak bisa kita berlarut-larut antara ada dan
tiada, antara tahu dan mengerti. Pilih salah satu, bukan dua-duanya. Hanya Kepastian dan Disiplin kuncinya ! Bukan Ragu dan Malu ke Bengkel dan Laboratorium ! Simulasi computer dengan Virtual Reality-nya, kalau mampu, tetap saja bukan akhir dari segalanya.  Penentu akhir tetap berada di bengkel atau manufacturing/processing floor! Itulah yang seharusnya dibawa kembali ke computer untuk penyempurnaannya. Mengapa tidak….?!

Bandung, 17 Mei 2010.
Hadiwaratama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: